Announcement of Death

This blog is dead. Deserted. Left by the owner.

Dead like chaosregion.wordpress.com

Deserted like simplyiyo.blogspot.com

Left by the owner like coretangunawan.wordpress.com

Because we’ve moved to

THE OFFICIAL MOCCHISPOT BLOG!

See ya there!

Advertisements

Aircraft Manufacturing Plant, Here We Go!

Hari ini saya ke sekolah bukan untuk belajar. My class had an excursion to PT. DI, or Indonesian Aerospace in English. Buat yang nggak tau, PT. DI itu, kasarnya adalah, pabriknya pesawat. Tempat dimana airplanes are assembled from the small parts to the large ones, making it a fully operational aircraft.

Kayak kalo masang mainan miniatur kapal yang banyak ditemuin di toko hobbies. Cuma ini versi besarnya. The real thing, you know what I’m saying?

Oke, saya bicarain dikiit banget kenapa PT. DI didirikan. Indonesia adalah negara kepulauan besar, bahkan terbesar di dunia. Itulah alasan utama PT. DI dibangun: untuk mempermudah transportasi antar-pulau di Indonesia.

PT. DI sekarang masih beroperasi dengan approximately 3000 employees. PT. DI berdiri pada tanggal 23 Agustus 1976 dengan nama PT. IPTN. Believe it or not, they had as many as 16,000 employees in the past. Sejak taun 1997, mereka kudu ngurangin pekerja mereka, karena PT. DI itu perusahaan milik negara, dan satu-satunya investor mereka adalah negara, dan negara sedang krisis keuangan saat itu. Mau nggak mau, investasi negara buat PT. DI juga sempet berhenti.

Kegiatan dari PT. DI adalah meng-assemble parts dari badan pesawat-pesawat terbang. Hanya badannya aja, soalnya Indonesia nggak punya cukup resources untuk bikin mesin pesawat. Meng-assemble parts-nya pun bahan-bahan dasarnya di impor dari luar negeri, yah, karena masalah sumber daya yang nggak mencukupi.

Ada satu helikopter yang sangat menarik. Helikopter ini ringan untuk satu orang penumpang, jenis NBO-105. Ini produk PT. DI yang paling murah. Harganya 1,6 juta. Ya, 1,6 juta. 1,6 juta dollar Amerika. US$1,600,000, ato sekitar Rp16 miliar.

Tugas kita cuma berkunjung dan ngisi worksheet yang disediain, dan kalo dikumpulin, kita dapet sertifikat excursion yang harusnya diperdebatkan karena ketidakjelasan akan fungsi sertifikat itu untuk apa.

We had a good time there. Kita kompak. Jarang-jarang kalo berkunjung ke luar kita bisa enjoy waktu kita dan bisa sebegitu kompak.

Tell You What?

Belakangan ini saya banyak cerita tentang that specific matter, dan pendirian saya banyak sekali berubah. Saking banyaknya, saya nggak mungkin bilang itu sebagai sebuah “pendirian”, karena itu sama sekali nggak “berdiri”. Di satu post, saya pengen hal ini. Tapi nggak lama kemudian, saya pengen itu. Beberapa hari setelahnya, saya balik lagi pengen ini. 

Mungkin saya plin-plan, tapi bukan berarti saya nggak bisa megang teguh “pendirian” saya.

Semuanya selalu berubah karena saya cuma mencoba untuk dinamis. Saya cuma ngikutin apa yang orang lain mau. Saya nggak ngerasa perlu untuk ngasih sesuatu yang baru buat mereka.

Kalo mereka maunya itu, so be it. Ngapain didebat? Bisa apa saya?

Tapi saya sadar kalo itu bukan sifat yang baik.

Saya setuju dengan “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Orang yang lebih “berpengalaman” adalah orang yang lebih statis ketimbang dinamis terhadap pendiriannya. Mereka lebih kritis ketimbang apatis terhadap keputusannya. Mereka banyak belajar. Bisa dibilang lebih cukup dewasa, karena orang “dewasa” itu orang yang udah banyak makan asam garam… Dan, well... Kritis dalem pengambilan keputusan.

Dan kalo ditelusuri, masalah saya adalah saya kurang berpengalaman. Karena kurang pengalaman, saya cenderung statis ketimbang dinamis dalem pendirian. Saya cenderung apatis ketimbang kritis dalem keputusan.

And that leads to one conclusion: Saya belum cukup dewasa.

Terutama dalem masalah yang sering saya ceritain di banyak post.

God! Please help me! Guide me! Assist me! Life is getting too rough for me!

Final Decision

Okay. After some time thinking about this very crucial matter, I have finally made my final decision.

I will never ever think about hoping her being my girlfriend. Ever again.

I sound 100% sure, yeah? Cause I really am. It doesn’t mean that I don’t like her again or something, but I just have this strong feeling that I am not good enough for her. I feel like that I don’t have what it takes to make her happy. Pushing everything that I want will only backfires me.

I am completely certain that we being best friends is just the best thing for us.

And I am completely certain that she’ll agree with this.

Now could you find me my life companion? Like a dog or something?

The Chat Continues…

OH, GOD!

Today I’ve had some time together with her while we were waiting for out extra lessons.

I learned SO MUCH about her, her previous dates, and her personality, so much.

But that was not the thing.

We had lunch together at McDonalds.

So was that the thing? Nope.

Okay, I can’t deny the fact that I was happy back then. I was more than happy to have had lunch with her, BUT…

I paid for both my and her lunch. And believe or not, that was the thing.

To have paid for her lunch was the dumbest thing I’ve ever did in my life.

Nope. The problem wasn’t because I regret paying for her lunch.

She’s the one who knows.

Now I want her to understand that, that wasn’t like what she might be thinking!

And I guess I’m not good enough for her.

Regrettion? What Kind of English is That?

Nggak, nggak, nggak. Judul di atas nggak ada hubungannya ama isi post ini.


I just wanna say that I regret saying something about forgetting her. I can’t just give up! Cinta itu harus diperjuangkan! Ceritanya harus berlanjut! The book needs to be finished before I can let her open it! Again, I-like-her-so-much-I-can’t stop-yelling.


Yah, cinta harus diperjuangkan ya, ha? I guess I’m right. But she’s taken, man! What am I supposed to do?


Well I am the one to blame. I held her back. I kept her waiting. I regret it. I really do.


Sekarang, time keeps running out… I don’t know what to say.


I just want you to know that I have been, I am, and I will be missing you.

Nemathelmynthes

Kenapa saya milih nama salah satu filum animalia buat jadi judul post ini? Because I learned about it di Tridaya tadi siang. With her. Just the two of us.

Dan Bu Irma tentunya.

Saya bisa ngejelasin apa yang saya rasain hari ini dengan senggaknya satu kata: Seneng, walopun ini udah ke sekian kalinya saya spend my time together with her, and it wasn’t a special one. I’ve had better one than that with her.

Nevertheless, I am a happy man!

We’ve almost went out for a date buat nonton. But her dad picked her up right after we walked out dari Tridaya. Shoot! Bad luck.

Emang susah buat ngomong ini, tapi kenyatannya:

I more than like her so much!